Millenial Job Center, Awal Bangkitnya Ekonomi Jawa Timur

Millenial Job Center, Awal Bangkitnya Ekonomi Jawa Timur

NAWABAKTI – Millenial Job Center (MJC) menjadi harapan baru bagi kaum muda di Jatim yang diketahui tidak banyak memiliki minat untuk berwirausaha. Kalau pun memiliki minat, bisa jadi belum bisa disalurkan. Karena itu, MJC memberikan konsepsi dipertemukannya tiga titik yang saling terkait sebagai awal bangkitnya ekonomi Jawa Timur.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan, sering kali dipahami bahwa MJC ini sebagai realitas fisik bangunan. Padahal, konsepsi ini seperti segitiga virtual yang ketika tiga titik ini ketemu, kerjasama maka jadi. “Sekarang, Desk untuk informasi, co working spaceakan tetapi disiapkan di EJSC (east Java Super Corridor) itu yang memudahkan informasi itu sudah dikelola di tiap Bakorwil,” tutur Emil Dardak saat memberikan sambutan dalam Launching pilot project MJC, EJSC dan Big Data Initiative di gedung Negara Grahadi, (27/5/2019).

Emil menuturkan, konsep MJC yang dikembangkan ini mempertemukan antara mereka yang ingin berprofesi tetapi mau mencari kerja tapi bingung. Atau mau mencari kerja tidak ada yang buka lowongan dan mencari klien tidak ada yang percaya karena tidak punya jam terbang. Sementara di sisi lain, terdapat klien dari perusahaan besar maupun kecil yang mau mencari tenaga free lancetapi tidak tersedia. Itu pun harus tenaga free lance yang berpengalaman.

“Di MJC ini, kita melakukan perjodohan talenta dan client ini mau. Karena talent tidak punya pengalaman, maka akan dibantu oleh mentor agar talent ini dapat on the job learning,” tutur dia.

 

Sering kali, lanjut Emil, ada mentor ada talent tapi tidak ada client. Sehingga tidak ada pengalaman kerja. Atau ada talent ada klien tapi tidak ada mentor. Segitiga ini menjadi konsepsi dalam membangun MJC.

MJC ini, lanjut Emil, merupakan jawaban atas persoalan di mana anak muda relative tidak suka berwirausaha. Kurang dari 25 persen dari kelompok usia 20 – 24 tahun yang berwirausaha. Sementara untuk lulusan SMA, kurang dari 30 persen yang setelah lulus melakukan kegiatan usaha. Permasalahan ini ditambah bahwa 9,6 juta lulusan SD ke bawah dan 2,27 juta millennial hanya berpendidikan SD ke bawah. “Tantangan kita mencetak wirausaha muda perlu menjadi perhatian. Mungkin minatnya ada tapi belum bisa tersalurkan. Di sisi lain, pengangguran terbuka di dominasi lulusan SMA sederajat,” papar mantan Bupati Trenggalek ini.

 

Sejalan dengan apa yang dihadapi kaum millennial dengan caracter mindeddengan gadget, tidak sabaran, dan tidak suka membaca. Emil mengaku masih ada potensi yang bisa digali jika energi kaum muda ini di-chaneldengan benar. Karena dari situ, akan muncul kaum muda yang inovatif, digital minded, entrepreneurial dan kolaboratif. “Digital minded bukan tugasnya anak IT. Tapi siapapun harus digital minded untuk menguatkan inovasinya,” ungkap dia.

Dengan langkah-langkah tersebut, Emil berharap Jatim akan mambu beriringan dengan tantangan revolusi industri 4.0. Karena ketika pertumbuhan ekonomi Jatim di sektor industri telah mencapai hampri 30 persend dan perdagangan 20 persen, Jatim terus ditantang untuk menjadi lokomotif ekonomi nasional. “Untuk menjawab hal itu Jatim terus melakukan inovasi. Khususnya dalam menjawab tuntutan industri 4.0. Dan jatim dapat melakukan transformasi industri yang menjadi tumpuan Jatim,” pungkas dia. rik/**

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *